"woiiiii !"
bentaknya menyadarkankku dari lamunan panjang ku. tanpa sadar aku sudah
melamun sejak aku menaruh tas dan menaruh badanku di bangku ringkih ini.
"pagi - pagi ngelamun ! hayoooooo ngelamunin apaaa ??" keponya
kumat banget -_-
"apa'an sih. enggak ada apa - apa kok." kataku sambil tersenyum
tipis
semuanya berjalan normal - normal saja sampai pada akhirnya, aku berada pada
suatu titik dimana aku jenuh. jenuh pada keadaan setiap hari yang kulalui
begitu - begitu saja.
tadi malam mimpiku aneh. jarang - jarang lhoo aku mengingat apa yang telah
aku impikan. hehehe. jadi gini, aku berada pada ruangan kosong. kosong banget.
warnanya sangat putih. silau sekali. dan lebih parahnya aku sendirian. iya
sendirian. nggak ada siapapun didalamnya. bingung, aku berlari sangat kencang,
tapi kenapa tak ada ujungnya. kemudian aku mencoba berlari sekencangmungkin
lagi. aku pun tak merasakan peluhku berjatuhan. ini dimana ?? aku mencoba
berteriak. niatku adalah meminta tolong. tapi ! jedeerr ! suaraku sendiri nggak
bisa aku dengar. *sumpah khayalan tingkat tinggi, jujur, penulis juga belum
pernah :p*
daaann..
"Saraahh !! banguuun deek. sekolah !"
akhirnya aku mendengar sebuah suara, pikirku. dan seolah tubuh ini sehabis
bertamasya kemanaa gituu. aku capek. menggos - menggos. jantungku nggak karuan
detaknya. ternyataaaa..lega sekali perasaan ku. aku cuman bermimpi :)))
ku atur nafasku, lalu beranjak dari tempat tidur dan ku langkahkan kaki
kecilku ke kamar mandi untuk segera bersiap - siap ke sekolah. malas juga mendengar
omelan lebih lanjut dari mama.
setelah mencium masing - masing punggung ayah dan mamaku tapi sebelumnya aku
sarapan dulu.
"Maaa..yahh..berangkat." "Assalamualaikum"
"Walaikumsalam." jawab mereka serentak disusul suara batuk kecil
dari tenggorokan ayahku
kemudian aku langsung menuju garasi untuk mengambil sepeda polygon hijauku.
sepeda kesayanganku, hadiah dari om Hadi waktu ulang tahun ku yang ke 15.
ku ayun sepeda dengan kecepatan yang sedang - sedang saja, sambil masih
memikirkan apa yang sebenarnya tejadi tadi malam. ku hirup sejuknya udara pagi
yang telah semalaman terguyur hujan gerimis. Alhamdulillah, indahnya nikmat
Allah :)).
sampai di parkiran, hanya terlihat beberapa sepeda sejenisku bertengger di
ujung - ujung parkiran sekolahku yang memanjang. sepertinya lagi - lagi aku
kepagian. masih dalam memikirkan kejadian apa yang sebenarnya terjadi tadi
malam, ku taruh sepedaku seenaknya tangan dan kakiku melangkah.
aku berjalan menuju ruang kelasku di lantai 2 lalu duduk di bangku ringkih
tempat yang memang biasa aku duduki bersama rina.
***
"wooii. kenapa kok ngelamun sarah ? aneh banget deh. nggak biasa -
biasanya kamu kayak gini sar."
aku mencoba tak menghiraukan pertanyaan rina, tapi rasa nggak enak ini
sangat sulit buat ku pendam sendirian.
"aduuh. aku juga pengen cerita, tapi bingung juga mau cerita kayak
gimana. aduuh gimana yaa. perasaan ku juga nggak enak banget nih. sumpah nggak
enak bangeeeettt." cerocosku panjang lebar
rina hanya melongo dan berkata "kaan. kaan. gejemu kumat deeh."
" tarik nafas panjang, hembuskan, tarik lagi, hembuskan lagi. cobak deh
sar." saran rina sambil memeragakan kedua tangannya naik turun.
setelah bercerita panjang kali lebar kali tinggi akhirnya hanya tiga kata
yang dilontarkan rina.
"aku nggak mudeng."
"haduuuu..rinaaaa" rengekkku dengan wajah kesal
emang sih, rina yang mana dia adalah sahabatku sejak kelas 1 sma ini agak -
agak o'on kalau masalah diluar bidang logikanya. dia sangat pandai dalam mata
pelajaran fisika tapi lemah di biologi dan ilmu sosial. yang mana itu semua
berhubungan sama perasaan *menurut penulis*
TEETT..TETT.TEEEEETTT.
tanda bunyi bel masuk kelas sudah terdengar. aku bergegas membereskan posisi
dudukku, buku - buku segera kupersiapkan dan lain sebagainya. tapi di lagi -
lagi, di tengah pelajaran, aku masih memikirkan apa yang sebenarnya di malam
kemarin. ku tahan daguku dengan kedua tanganku di meja. dan kutarik nafas
panjang.
"dok.dok.dok.dook..dok.dok.dook" suara itu membuyarkan lamunanku.
suara ketukan pintu kelasku oleh seorang yang tak asing bagiku. guru bimbingan
konseling yang biasanya selalu bergerak maju bila ada siswa yang terlambat
masuk sekolah. semua mata teman sekelasku tertuju padanya
"permisi pak, mau manggil Sarah Ayunda Putri" suaranya lirih
"ada yang namanya Sarah disini ?"
"oh, iya. saya pak." kataku seraya berdiri dari bangku ini dan
kemudian berjalan menuju guru bimbingan konseling yang memanggilku.
"ada apa ya pak ?"
"tadi ada telepon dari paman mu. kamu di suruh buat pulang sekarang
juga."
deg. sejenak dadaku sakit. tapi kembali lagi. ada apa ya kira - kira. nggak
biasanya aku di telepon melalui sekolah
"oh, iya pak. tapi kenapa pak ya ? kata pamanmu, dia sudah berusaha
meneleponmu tapi tidak bisa.
langsung kurogoh hp yang ad di saku bajuku. dan yang benar saja. handphone
ku lowbatt pagi - pagi. gak biasa - biasanya juga.
tanpa pikir panjang, tanpa pula aku masih memikirkan apa itu yang sebenarnya
terjadi pada ku malem kemarin, aku langsung membereskan buku - buku yang
berserakan di meja. dan menenteng tas keluar dari kelas. aku juga tak
menghiraukan pertanyaan dari Rina. entah apa yang ia ingin tanyakan. ia selalu
saja kepo dan selalu penasaran. bukansalahku juga, seolah - olah telinga ini di
buntu sesuatu sehinga aku tak bisa mendengar suaranya.
menuju parkiran. di parkiran aku kayak orang linglung. masalahnya : aku lupa
menaruh sepeda polygon hijauku dimana. jedeeerrr. matilah akuu. oke aku
putuskan buat pulang naik ojek saja. biar nanti sore saja ku suruh mang jajang
mengambil sepedaku.
di perjalanan menuju rumah ku. lagi - lagi aku masih memikirkan tentang
kejadian semalam dalam mimpiku. tapi tak sampai akhir aku berfikir. aku melihat
ada bendera kuning bertengger di ujung gang rumahku.
deg. dadaku terasa sakit lagi. tapi sejenak kemudian normal kembali.
"hmmmm..kasian. . siapa yang meninggal yaa ?" kataku dalam hati
dag.dig.dag.dig.dug.dagdigdug. bunyi detak jantungku semakin nggak karuan.
dan tambah detik, jantung ini rasanya mau copot. aku bergeming lagi dalam hati
"jangaann..jangaannn!"kemudian diam
"aaahh..nggak mungkin..nggak mungkin."bantahku pada diri sendiri
"tapi, bisa juga sih!" galau segalau galaunya galau
"trus kalo beneran??" tanyaku dalam hati
begituuu seterusnya gejolak di hati ini. serasa motor tukang ojek ini
berjalan dengan kecepatan 0,5 km/jam. waktu berjalan lambat sekali. sangat
lambat. kayak slow motion gitu. padahal jarak rumah dari gang yang ada bendera
kuning hanya sekitar 1 km. *penulis agak lebay :p*
dan akhirnya sampai juga di depan rumah. mang jajang yang menyambutku dengan
gaya khasnya. tapi ada yang aneh dengan garis mukanya. tidak seperti tadi pagi,
saat aku berangkat sekolah.
"non Sarah, enon, sudah ditunggu om Hadi di ruang tengah"
deg. haah. aku nggak suka sama ini ! sumpah ! dadaku sakit sekali :(
tanpa menanggapi mang jajang, aku langsung berlari ke dalam rumah. di dalam
rumah yang tak begitu luas ternyata sudah banyak orang di dalamnya. entah
dimana kendaraan mereka. mungkin karena aku terlalu tidak memperhatikan. saking
paniknya.
semua mata yang ada didalam rumahku tertuju padaku.
"ada apa ini ???" tanyaku dalam hati
om Hadi segera memelukku. memeluk erat tubuh ku. sampai aku tak bisa
bernafas. dada ini sangaatt sakiitt.
"Sarah, yang tabah yaaa.." kata om Hadi lirih
"ayaaahmuu....kemudian mamamuuu..." lanjut om Hadi sambil
sesenggukan
deg. hampir tak tak bisa aku bernafas. dadaku sakiit. tapi masih bisa ku
tahan dan bertanya pada omku
"kee..keenaa..pp.ppaa omm, ayah sama mamaaa ??"tanyaku juga sambil
membendung air mata yang tak ingin kujatuhkan tapi ku tahan kedalam sampai
sakit.
setelah panjang lebar om Hadi bercerita. akhirnya aku tak kuat lagi
membendung air mata ini. wajar. rasanya lemass. kaki ini lemas, nggak kuat buat
berjalan, rasa sakit di dada sudah tidak sekait tadi. semua berjalan
sewajarnya. sampai pada akhir. aku melihatnya. melihat mereka kembali. dengan
sepenuh tenaga aku kuat melihatnya.
sekarang aku tau apa maksudnya. maksud dari mimpi yang semalam. saat ini aku
benar - benar sendiri seperti yang kuimpikan tadi malam, mau teriakpun tidak
bisa karena aku terlalu shock dan pada akhirnya aku tidak bisa mengucapkan
sepatah katapun. sakit. aku hanya bisa mendengar tanpa bisa mengucapkan. ini
sakit. lebih sakit dari apapun. sungguh.
ayahku terkena serangan jantung dan mamaku kaget dan pada akhirnya terkena
serangan jantung juga. ini musibah atau apa aku juga nggak tau. yang aku tau
pasti, mimpi ituu...
sendiri. putih. kosong. berlari tanpa peluh. berteriak tanpa suara. itu
tanda yang di berikan.
the end